Di kampus Stikosa AWS (Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya) saat ini berlangsung kegiatan training dan uji kompetensi sertifikasi bidang K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) selama 5 hari kedepan sejak kemarin.
Kegiatan yang berlangsung di GOR Futsal Stikosa AWS ini diselenggarakan atas kerjasama Kementerian Tenaga Kerja RI, dengan Asosiasi Rope Access Indonesia (ARAI) Pengprov. Jatim, dan PT. Spanset Indonesia di Jakarta, sebuah perusahaan milik Swis salah satu penyedia equipment safety pekerja di ketinggian.
Kegiatan uji kompetensi sertifikasi ini sebagai bentuk penyeleksian tenaga profesional di bidang K3. Selain itu sertifikasi ini sebagai peluang tenaga profesional yang terbuka lebar dan sangat prospek di dunia Industri saat ini, sesuai dengan Permenaker No. 9 2016 tentang keamanan dan keselamatan tenaga kerja.
Suriadi Ketua ARAI Pengprov. Jatim selaku penyelenggara lapangan mengatakan, diakuinya masih sedikit tenaga profesional yang mengantongi sertifikasi K3 rescue bagian ketinggian, yang tidak sebanding dengan jumlah tumbuh pesatnya usaha industri dan bangunan gedung.
“Profesi di bidang ini tergolong langka dan minim jumlah tenaganya untuk menangani banyak hal di dunia industri dan gedung pencakar langit. Terutama di bidang rescue saja, di Jawa Timur berapa banyak perusahaan perusahaan itu yang membutuhkan tenaga profesional K3, sementara jumlah tenaga profesionalnya sangat terbatas,” ungkap Suriadi yang juga masih tercatat sebagai mahasiswa Stikosa AWS, Selasa (20/2/2024).
“Tidak semua perusahaan atau masih sedikit perusahaan yang menyediakan tenaga kerja internal K3 di bagian Ketinggian. Kebanyakan saat membutuhkan, mereka mengambil dari penyedia jasa K3 yang jumlahnya masih sangat terbatas,” imbuh Trainer senior K3 Ketinggian ini.
Pelaksanaan uji kompetensi sertifikasi K3 tersebut, diikuti sebanyak 11 orang peserta, diantaranya datang dari tenaga kerja perusahaan, freelancer tenaga kerja, perusahaan penyedia jasa K3, dan mahasiswa pecinta alam (mapala).
Dari 11 peserta tersebut, terdapat 3 peserta dari mahasiswa UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Prapanca Pecinta Alam (Prapala) Stikosa AWS, serta terdapat seorang perempuan berprofesi sebagai admin sebuah RS (Rumah Sakit) Swasta di Surabaya. Sedangkan para pesertanya datang dari berbagai daerah antara lain dari Jakarta, Pulau Buton Sulawesi Tenggara, Tuban, Gresik, Sidoarjo, dan Surabaya.
Dari para peserta yang mengikuti sertifikasi, ada salah satu peserta dari atlet juara PON (Pekan Olahraga Nasional) Panjat Tebing tahun 2020 di Papua dan PON 2018 di Jawa Barat.
Dikatakan Suriadi, uji sertifikasi ini mencakup kegiatan K3P3K (Kesehatan dan Keselamatan Kerja Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) dengan mengakses struktur bangunan, aktivitas penyelamatan dengan akses tali Rope, tali yang umumnya digunakan panjat tebing pecinta alam.
Sedangkan yang diujikan sebanyak empat tahapan level yang sesuai dengan aturan dan ketentuan SOP dari Kemenaker.Yakni: Pertama, sertifikasi level TKBK (Tenaga Kerja Bangunan Khusus) tingkat dasar yang terdapat 3 level diuji kompetensikan di level 1,2 dan 3 level pekerja, dengan ketentuan persyaratan telah menempuh aktivitas penyelamatan 500 jam kerja.
Kedua, uji sertifikasi TKBT (Tenaga Kerja Bangunan Tinggi) yang terdapat 2 level yakni di level 1 dan 2 dengan persyaratan telah menempuh 1.000 jam aktivitas penyelamatan, dengan kata lain uji sertifikasi level supervisior atau pengawas bangunan. Ketiga, uji sertifikasi TKPK level perencana, dan keempat, uji sertifikasi level Trainer yang sudah lulus TOT.
Sedangkan uji sertifikasi tertingginya yakni sertifikasi untuk menjadi asesor K3, bila setelah melewati 4 tahapan uji sertifikasi sebelumnya.
Yang diujikan dalam manuver level 1 yaitu:
- Ascending descending naik turun tali polos tunggal atau single rope,
- Melewati simpul rintangan passing knot dengan kemungkinan dalam dunia kerja ada tali sambungan atau talinya disambung,
- Melewati tambatan berulang atau cantolan tali ada rintangan pengulangan jangkar atau angkur,
- Deviation yaitu lintasan tambatan berulang karena ada rintangan dengan berbelok arah
- Rope to rope, perpindahan tali antara tali naik turun di tali lintasan yang berbeda
- Rescue Descending to descending atau dari alat turun ke alat turun, atau turun dari alat turun ke alat penurun.
Yang diuji kompetensikan pada sertifikasi level 2, yakni pertama, manuver keseluruhan rescue dengan peraga ada korban yg diselamatkan kelanjutan dari yang dilakukan level 1, kedua, rescue menaikkan dan menurunkan korban houling dan lowering .
Untuk uji kompetensi sertifikasi manuver level 3, yakni sebagai perencana rescue menurunkan dan menaikkan korban, dengan pertemuan tali dengan sudut besar yang artinya terdapat 2 lintasan ditengahnya ada perpindahan teknik dg kemungkinan buruk mau pindah tali terdapat stag atau blocking di tengah-tengah tali, dengan cara-cara yang diujikan dari level 1 dan 2.
“Sekali lagi, peluang pekerjaan di bidang K3 khususnya pada bagian Ketinggian ini sebagai potensi dan peluang yang sangat tinggi. Setidaknya ada 5 bagian anggota tubuh kita sebagai K3 ini yang menjadi potensi penghasilan. Fisik kita mulai dari mata sebagai pengawas baik internal perusahaan atau jasa penyedia layanan K3, telinga sebagai informasi atas jasa K3 yang dipekerjakan, dan bibir dengan ucapan sebagai asesor bisa menjadi penghasilan, Belum lagi otak dan pikiran kita di K3,” tandas Suriadi yang akrab dipanggil Tombro.
Apa penyebab terjadinya kecelakaan kerja K3 Ketinggian?
Suriadi yang berkecimpung sudah puluhan tahun di bidang K3 menjelaskan, hal-hal yang terkait adanya kecelakaan kerja pada K3 bagian Ketinggian ini. Yaitu :
1.besar kemungkinan terjadi terkait perencanaan yg tidak matang dan maksimal
- Peralatan yg tidak standar keselamatan kerja dan banyak hal terkait peralatan atau equipment terutama yg belum memenuhi standar SNI-nya.
- Personalnya kemungkinan belum mendapatkan training dan sertifikasi.Karena tidak semua perusahaan industri terutama nakernya secara internal memenuhi hal tersebut.
- Kemungkinan faktor alam (diantaranya sengatan hewan disekelilingnya) atau cuaca yang kurang atau tidak mendukung dan aktivitas terganggu bahkan dapat menjadi ancaman keselamatan kerja. Langkah yang dijalankannya dalam situasi tersebut wajib menghentikan pekerjaan sampai suasana cuaca mendukung.
Uji kompetensi sertifikasi K3 bagian Ketinggian di GOR Futsal Stikosa AWS, sangat antusias dilalui para pesertanya dengan seksama. Salah satu pesertanya, Yazid Naim (24) asal Wakatobi Sulawesi Tenggara sebagai pekerja CV. Sinergi Vertikal bergerak dibidang jasa spesialis K3 Ketinggian.
“Alasa saya ikut sertifikasi ini selain memperdalam hobi, untuk meraih peluang pekerjaan yang sangat prospek di bidang ini,” ungkap Yazid.
Sebelumnya ia mengikuti sertifikasi level 1 dan hali K3 umum, alumni kampus STAI YPQ Yayasan Pendidikan Sultan Qoimudin Baubau Sulawesi Tenggara ini, mengaku merasakan tantangan baru di sertifikasi level 2 ini dalam pembentukan mental yang stabil dalam penyelamatan di ketinggian dan pengalaman teknik baru tentang rescue.
Hal senada diungkapkan peserta lainnya dari mahasiswa Prapala Stikosa AWS Noufal Rangga Saputra semester 3 peminatan Digital Journalistic and Broadcasting prodi Ilmu Komunikasi Stikosa AWS. Ia tertarik mengikuti training dan uji kompetensi K3 Ketinggian ini lantaran untuk pengembangan dari UKM Prapala yang ada dalam divisi caving. Ada banyak hal yang menarik dari beberapa teknik rope yang didapatkan diluar kegiatan mapala.
“Saya tertarik mengikuti sertifikasi ini selain ada senior alumni Prapala yg menjadi trainer, untuk menambah pemahaman wawasan dan peluang kerja nantinya,” ujar Noufal, mahasiswa Stikosa AWS ini..